Pages

Rabu, 06 Juli 2011

Hatiku yang Tersakiti


Aku diam merenung bersama serpihan perihku. Sakit ku mengingat saat kau di sisiku. Dulu, kau memberiku sebuah senyuman yang belum pernah ku dapatkan sebelumnya. Rasa itu terukir dalam dengan indah. Tapi tak ku sangka, rasa sayang yang selama ini kau beri hanyalah kebahagiaan yang semu. Kau mengagungkan sesuatu yang kau sebut cinta dengan topengmu, yang dibaliknya tersembunyi seribu bilah pisau yang siap menyerangku dan menusuk jantungku. Atas nama cinta, kau bersandiwara di depanku.

Saat kau bercerita tentang peran baikmu dalam sandiwara yang berbeda. Begitu lihai kau merangkai kata dan mengucap janji manis yang sangat indah terdengar. Awalnya aku bisa mengabaikan semua rayuan manismu, tapi kau memang takmau menyerah. Sehingga aku terbawa perasaan yang akhirnya hatiku luluh

waktu terasa berjalan begitu cepat hingga membuatku terjatuh dan tak sadarkan diri lagi. Bodoh aku yang percaya dengan ucapanmu. Kau membuatku berkorban hanya untuk dirimu. Diam-diam kau menusukku dari belakang dengan belati dibalik topengmu yang terukir indah. Kata-kata cinta yang kau beri racun, membuatku tidak menyadari sakit yang begitu dalam.

Apa kau masih menjunjung tinggi janji yang pernah kau berikan untukku? Janji bahwa kau takkan pernah meninggalkanku.

Mengapa hati ini masih menyimpan kenangan bersamamu? Setiap detik di sisimu terekam jelas dan tersimpan indah di sudut hati kecilku. Tapi semua itu hanyalah sandiwaramu, kau adalah seorang pemain yang memiliku seribu topeng dan beribu tipu muslihat untuk mendapatkan apa yang kau mau.

Kau mendekatiku dengan bualanmu untuk menjadikanku permainan. Setelah kau mendapatkan kesenangan yang kau cari, kau membuangku dan menganggapku tak pernah ada dalam hidupmu. Entah apa yang membuatmu melakukan semua itu. Apa rasa sakit yang pernah kau ceritakan itu yang membuatmu tak punya perasaan lagi seperti ini? Atau memang inilah dirimu yang sebenarnya?

Seharusnya aku mendengan apa kata mereka, tapi aku terlalu angkuh dengan perasaan itu. Ya…hatiku terlalu meninggikanmu karena terlalu mudah aku terbuai oleh setiap katamu. Salah ku memberimu kesempatan untuk bermain api dibelakangku. Sekarang aku hanya bisa menyesali kepolosanku berhadapan dengan orang sepertimu. Tapi apa gunanya rasa sesal itu? Aku telah tersakiti, perih yang sangat dalam dan aku harus membuang perasaan yang dulu kubanggakan. Aku malu dengan diriku.

Tak ada lagi kata yang bisa menggambarkan rasa sakitku yang begitu dalam. Kini ku merasa, kau adalah orang terjahat yang pernah ku temui selama hidupku.

Rabu, 22 Juni 2011

Polisi Jadi Sasaran,

ADA apa gerangan dengan polisi Indonesia? Mengapa instrumen negara itu dimusuhi? Adakah karena prestasi polisi dalam memporakporandakan aksi teroris, sehingga sisa-sisa teroris yang masih ada balas dendam?
Sejumlah anggota polisi terluka, menyusul menyalaknya bom di Masjid Adz Dzikra Kompleks Mapolresta Cirebon Jumat (15/4). Menurut Mardigu W Prasantyo, pengamat teroris, ini adalah teror bom ke 19 di Indonesia yang melukai 30 anggota dan menewaskan satu orang yang diduga adalah sang pelaku.

Sejak bom Bali, bom JW Marriot sampai bom buku, Maret lalu. Berarti bisa dikatakan setiap bulan selalu saja terjadi teror bom. Yang tidak habis pikir, bom bunuh diri di Cirebon mengapa justru terjadi di tengah-tengah umat Islam yang tengah bersembayang berjamaah?

"Tapi kenapa kok ini mesjid? Ketika umat Islam sedang berkumpul untuk bersembahyang?" kata Sarlito W. Sarwono, psikolog pengamat perilaku teroris. Ini lebih rumit lagi karena sudah masalah personal misalnya dimungkinkan adanya unsur dendam, dan kalau yang diserang sesama umat Islam, lantas di mana lagi letak jihadnya seperti yang selama ini mereka (para teroris, red) dengungkan?" kata Mardigu diwawancarai Metro TV Jumat (15/4).

Kelemahan intelijen?
Bom bunuh diri (suicide bomber) merupakan tindakan yang sulit diantisipasi. Kasus teror bom dengan cara bunuh diri di Indonesia sudah terjadi beberapa kali. Sejak yang paling dahsyat tahun 2005 bom bunuh diri yang tercatat di JW Marriot, di Kedutaan Australia, bom Bali I dan bom Bali II dan belakangan terjadi lagi di Hotel JW Marriot dan Hotel Ritz Carlton.

Maka lagi-lagi pihak intelijen Indonesia yang dianggap kurang bekerja maksimal. Intelijen perlu dibekali dengan instrumen lebih lengkap lagi. Ini belajar dari kasus bom buku tidak ada penyidikan yang sifatnya teknis misalnya finger print dll. Bukannya di tempat-tempat tertentu sudah dipasang CCTV?

Banyak orang menyatakan, dalam kondisi sekarang ini, "Intelijen Indonesia sangat memrihatinkan, ini harus ada bantuan dan kerjasama dari masyarakat untuk memerangi terorisme," lanjut Mardigu.
Masih menurut dia, inteligen Indonesia harus dibekali dengan teknologi moderen. Seperti agensi di Amerika atau negara-negara lain, meski orangnya tidak banyak, tapi alatnya canggih dan memahami.
Di lain persoalan, Ahmadyani Komisi III DPR RI, mengatakan, bom Cirebon tampak sekali ada upaya untuk mengadudomba sesama umat Islam dan sesama bangsa Indonesia.

Sementara KH Makhruf Amin dari MUI, "Kita sudah membuat fatwa haram tentang terorisme. Kalau itu terjadi di mesjid ini sudah luar biasa. Itu bisa berdampak luas. bisa berdampak kecurigaan siapa yang melakukan hal ini. Itu semakin membuat buruk citra dari paham-paham islam. Kita belum punya daya penangkalan terjadinya terorisme."

Bahkan dunia sepakat seperti halnya Mardigu, "Ini berarti kemampuan intelijen kita harus ditingkatkan," katanya.

Rentetan bom bunuh diri di Indonesia
No Waktu Peristiwa
1 28 Mei 2003 Bom meledak di Tentena , Poso, Sulawesi Tengah. Korban 22 orang tewas.
2 8 Juni 2005 Bom meledak di halaman rumah Ahli Dewan Pemutus Kebijakan Majelis Mujahidin Indonesia, Ust Abu Jibril di Pamulang Jawa Barat
3 1 Oktober 2005 Bom meledak di Kuta Bali. Peristiwa ini menelan 22 orang tewas.
4 31 Desember 2005 Bom meledak di Pasar daging Babi di Palu, Sulawesi Tengah
5 10 Maret 2006 Ledakan bom di rumah penjaga Kompleks Pura Agung Setana di Desa Toini. Poso.
6 22 Maret 2006 Sekitar pukul 19.00 Wita bom meledak di pos kampling di dusun Landangan, Desa Toini, Kecamatan Poso Pesisir
7 1 Juli 2006 Ledakan bom di gereja Kristen Sulawesi Tengah ( GKST Jalan Pulau Seram, Poso.
8 3 Agustus 2006 Sekitar pukul 20.00 Wita bom meledak di Stadion Kasintuwu yang terletak disamping Rumah Sakit Umum Poso
9 18 Agustus 2006 Bom meledak lagi di Poso
10 6 September 2006 Bom Meledak di Tangkura, Poso Pesisir Selatan
11 17 Juli 2009 Ledakan di Ritz Caltron dan JW Marriot. Sembilan Orang Tewas. Dengan Perstiwa ini polisi bukan hanya kecolongan, tetapi juga ditampar karena pelaku menggunakan metode baru yaitu menyusup dari dalam. Penyelidikan peristiwa ini pun belum menyeluruh dan belum tuntas.
12 30 September 2010 Sebuah ledakan yang diduga bom rakitan terjadi di Jalan Kalimalang depan Pasar Sumber Artha, Kota Bekasi, Jawa Barat, sekitar (perbatasan dengan kodya Bekasi), sekitar 100 meter dari pos polisi. Polisi menyatakan ledakan itu melukai satu orang korban yang diduga membawa bahan peledak itu dengan sepeda.
13 15 Maret 2011 Sebuah bom low explosive meledak di halaman kantor JIL Jaringan Islam Liberal). Melukai 3 orang, diantaranya seorang polisi yang mencoba menaklukkan paket bom. Teror ini dianggap modus baru.
14 15 April 2011 Bom yang diduga bom bunuh diri terjadi di Masjid Adzl Dzikra, kompeks Maplres Cirebon disaat para jamaah tengah khusuk beribadah shalat jumat. Seorang tewas, yakni pelaku bom, dan 30 orang luka berat dan ringan, yang kebanyakan adalah anggota polisi.

Polisi, Pemburu yang Kini Diburu?

Polisi, Pemburu yang Kini Diburu?
 
SIANG yang tenang. Empat orang anggota polisi, yaitu Bripda Yudistira,  Bripda Ibrar, Bripda Dedy Edwar dan Brida Ahyar tengah melakukan pengawalan terhadap mobil pembawa uang milik Bank Central Asia, Rabu (25/5).

Setelah sampai di kantor BCA yang terletak di Cabang Palu, Sulawesi Tengah, Jalan Emy Saelan, Palu Selatan, Bripda Yudistira dan Dedy langsung menempatkan diri di samping pos jaga. Sibuk lirik kanan-kiri, mata kedua Bripda ini seolah tak pernah lelah, lengah, sesaat pun untuk melakukan pengawasan. Bripda Ibrar dan Ahyar memilih berada di dalam pos jaga.
 
Kronologi Penembakan di Palu

Waktu itu sekitar Pukul 10.15 WITA. Sesosok 'Yamaha RX King' dengan suara mesin yang nyaring, berbaur kepulan asap motor dari knalpotnya, dipacu beriringan bersama sebuah 'Yamaha Jupiter' merah, mendekat, menghampiri Bripda Yudistira dan Dedy yang tengah berjaga. Kedua motor mendekat, membawa sosok empat orang yang berpenampilan tertutup di bagian kepala serta masing-masing orang yang duduk di 'bangku pembonceng' membawa sebuah senapan laras panjang. Berjarak sekitar 3 meter dari samping pos jaga, keempat bripda itu bahkan tak punya kesempatan untuk curiga.  Merasa terkejut bukan main, mereka menghardik para pengendara motor ini. "Letakkan senjata!". Peringatan itu percuma, bahkan keempat bripda dihadiahi berondongan peluru.

Tembakan itu menghunjam, meminta nyawa Bripda Yudistira dan Bripda Ibrar. Tubuh Bripda Dedy Edwar jatuh tersungkur, dihantam timah panas yang berhasil bersarang di pantat kirinya. Peluru itu bahkan tembus hingga ke bagian paha. Beruntung, Bripda Ahyar selamat. Usai memberi 'tembakan perpisahan' yang membabi buta, para pelaku kabur. Beberapa saat sebelum kabur, mereka sempat mengambil senjata Bripda Irbar yang berada di pos jaga. Polisi langsung menggelar olah TKP dan mengejar pelaku. Senjata pelaku dapat diidentifikasi berdasarkan peluru yang dihamburkan untuk saling tembak. Ditemukan selongsong peluru cal 5,26 yang biasa digunakan M 16, FNC, dan AK Rusia.

Perburuan Polisi dibantu oleh Tim Densus 88 serta warga pun dilakukan. Berhasil, kurang dari 12 jam setelah kejadian, polisi berhasil menangkap F dan H yang diduga terlibat langsung. Dari tangan F dan H disita pula senjata Jungle US Caraben, M- 16, magazen, 25 butir peluru Jungle US dan 5 butir peluru yang caraben dan senjata milik polisi yang dicuri waktu itu, yang juga didapatkan di tempat pelaku, V2. Dua orang lainnya, yaitu Fauzan dan Dayat alias Farouk, masih buron.

Motif dan Skenario

Kepala Bagian Penerangan Umum Mabes Polri Komisaris Besar Boy Rafli Amar mengatakan, penembakan itu dilakukan, bukan tanpa misi di baliknya. Direncanakan dan punya skenario. Aksi itu dilakukan, setelah para pelaku melakukan survei lokasi hingga tiga kali. Tujuan khususnya adalah senjata api yang direbut dari tangan polisi yang tewas. Dua orang pelaku yang ditangkap telah membenarkannya. Mereka sedang berupaya mengumpulkan senjata dan uang yang cukup bagi 'kelompoknya'. Mengejutkannya, saat melakukan pengejaran terhadap buron yang belum tertangkap, jumlah tersangka kembali bertambah. Semula diketahui hanya 4 orang, kini menjadi 9 orang. Bahkan menurut Kepala Kepolisian Resort Poso AKBP Pulung Rochmadiyanto, jumlah itu akan bertambah.

Polisi yang dulu begitu tenar, disegani, dan ditakuti, di balik 'simbol' dan 'atribut' seragam coklat tua, pistol, serta lencananya, namun kini menjadi sasaran buruan para teroris. Terbukti, belum usai para aparat keamanan itu mengamankan diri di Palu, lagi-lagi kasus penyerangan kembali terjadi. Kali ini dekat dengan Ibu Kota Jakarta, Bekasi. Aipda Sugiyantoro, merupakan seorang anggota Unit Ranmor Polresta Bekasi Kota yang menjadi korban. Dia tewas ditembak saat sedang berpatroli.

Pengamat teroris, Alchaidar, menilai, aksi polisi di Palu terkait dengan NII. Para teroris diduga merupakan anggota dari Penanggulangan Krisis (Kompak) yang merupakan faksi dari NII yang ada di Sulawesi Selatan. NII memang memanfaatkan para jamaahnya untuk melakukan aksi pencurian. Terinspirasi dari tokoh NII Kartosuwiryo dan Kahar Muzakkar serta kelompok gerakan Mindanao. Mereka ingin terlihat eksis. Lebih eksis dari NII Komandemen Wilayah (KW) IX. Faksi ini merasa tak dihargai, karena polisi menyatakan perang terhadap NII secara umum. Padahal faksi ini cenderung lebih brutal. Aksi NII KW IX selama ini cenderung mengatasnamakan NII secara general. Padahal ada pecahan lain dari NII yang lebih mengerikan.
 
Berikut adalah aksi teror yang dilakukan terhadap polisi selama beberapa waktu belakangan :

No Peristiwa Waktu Keterangan
1 Perampokan di Bank CIMB Niaga Medan 18 Agustus 2010 Satu anggota Brimob, Briptu Imanuel Simanjuntak tewas.
2 Serangan ke Polsek Hamparan Perak 22 September 2010 15 orang bertopeng melakukan penyerangan ke Markas Polsek Hamparan Perak, Deli Serdang, Sumatera Utara. Tiga polisi jaga tewas. kasus penyerangan ini terkait dengan perampokan CIMB Niaga Medan dan terorisme.
3 Bom Sepeda Kalimalang 30 September 2010 Pelaku berinisial AH berusaha meledakkan bom ditengah sejumlah personel polisi yang sedang berjaga di dekat Pos Polisi Sumber Arta, Bekasi. Mengandalkan sepeda dan bom berdaya ledak tinggi. Gagal, bom diduga terlebih dulu meledak.
4 Bom bunuh diri di Mapolresta Cirebon 15 April 2011 M Syarif melakukan bom bunuh diri di masjid Adz Dzikra, Mapolresta Cirebon, Jawa Barat. Pelaku meledakan diri ditengah- tengah jama'ah masjid yang akan melakukan shalat jum'at.
5 Penembakan Polisi di Kantor Bank BCA Jalan Emisaelan Palu 25 Mei 2011 Penembakan terhadap polisi yang tengah melakukan pengawalan terhadap mobil pembawa uang milik Bank Central Asia.
6 Penembakan terhadap Polisi Patroli di Bekasi 1 Juni 2011 Aipda Sugiyantoro tewas ditembak saat sedang berusaha memeriksa sebuah mobil Kijang Innova hitam yang parkir mencurigakan. Ditembak dari dalam mobil.

Minggu, 19 Juni 2011

H i t l e r.

Hitler:
"Kebenaran adalah kebohongan kali seribu..!!" Pilpres 2009: DPT : 171.265.442 orang. Golput plus suara tidak sah: 49.677.776 + 17.488.581= 67.166.357 orang. Pemilih= 104.099.085 orang. Perolehan suara SBY-Boed= 60% X 104.099.085= 62.459.451=37% dari jumlah pemilih sah!!. (Dugaan) penggelembungan=18 juta X 104 juta=17%. Perolehan SBY-Boed hanya=37%-17%=20%! Pantes saja dokumen KPU dimusnahkan?

SKANDAL
Skandal korupsi PARTAI DEMOKRAT sebagaimana yang dilansir media massa bermula dari terungkapnya kasus dugaan suap dan korupsi sekretaris MENPORA yang melibatkan kader-kader terpilih Partai demokrat, diantaranya Nazaruddin, Angelena Sondaqh, Andi Malarangeng, Ibas dan Anas Urbaningrung (KETUM PARTAI DEMOKRAT). Bermula dari pengakuan Rosalinda salah seorang kader demokrat yang terkait dengan bisnis Nazaruddin memberikan keterangan tentang keterkaitan Nazaruddin Dan Angalina Sondaqh dalam kasus Pembangunan Proyek gedung SEA GAME di Palembang, dan keterangan ini kemudian dicabut di KPK yang intinya menyatakan tidak mengenal Nazaruddin. Tapi ternyata Partai demokrat keliru besar, bahwa dengan dicabutnya keterangan Rosalinda justru kasus ini semakin membuka lebar praktek mafia dan suap PARTAI DEMOKRAT sebagai Bandar politik kekuatan SBY.terlebih setelah Mahfud MD membongkar dugaan suap Nazaruddin terhadap MK melalui sekretaris MK dan mengaitkan hal ini terhadap Presiden SBY. Konspirasi akhirnya makin terbongkar dengan terkaitnya Anas Urbaningrum dalam [posisi salah seorang komisaris perusahaan milik Nazaruddin.

Sabtu, 18 Juni 2011

Masih adakah Nurani Penegakan Hukum

SATJIPTO Rahardjo dalam bukunya yang membedah hukum progresif menyatakan,’’ hukum hendaknya mampu mengikuti perkembangan zaman, menjawab perubahan zaman dengan segala dasar di dalamnya, dan mampu melayani masyarakat dengan menyandarkan pada aspek moralitas dari SDM penegak hukum itu sendiri.’’ Sejak awal Prof Tjip sudah memberikan pemikiran akan suatu perubahan sosial pada masyarakat yang menyatakan dirinya tunduk pada hukum.

Faktanya, berbagai konflik hukum, telah memberikan kesimpulan, bahwa permasalahan sosial memberikan dampak yang menakutkan di satu sisi karena mengakibatkan  kerugian materi dan kemunduran moralitas. Namun di sisi lain bisa menguntungkan pihak-pihak yang mempunyai kepentingan dalam proses konflik tersebut. Bahkan mendatangkan keuntungan materi luar biasa. Karenanya, sering dikatakan bahwa penegakan hukum hanya sebuah dagelan mengingat hanya mengedepankan kepentingan pribadi/ kelompok dan politik, bukan keadilan masyarakat dan kebenaran.

Kita bisa berkaca pada kasus Bank Century, pengakuan Susno Duadji, kasus Gayus dan sebagainya, yang penyelesaiannya makin tidak jelas.

Sistem pengawasan, penanganan, dan penindakan ibarat lakon dagelan yang membosankan. Masyarakat hanya menjadi objek pendengar, pemirsa, dan pemerhati. Pengambil keputusan justru seperti menutup telingga dan membutakan mata, lihai membuat berbagai alasan sebagai pembelaan diri dengan menyalahkan orang lain, UU,  dan sistem. Pelaku kejahatan mempunyai kepentingan egoistis luar biasa, dan bila diwujudkan maka kerugian itu tidak saja dialami oleh korbannya tetapi yang menakutkan adalah hancurnya sistem sosial ekonomi, bahkan dapat menimbulkan kegoncangan sosial bernegara. Kita bisa melihat kejahatan kerah putih (white collar crime), yang kadang tidak bisa disentuh dengan cara apapun.

Kepentingan-kepentingan itu telah mengalahkan hati nurani pelaku perbuatan menyimpang tersebut, bahkan pembodohan yang diciptakannya tidak saja berhenti pada perbuatan itu. Dalam proses pemberantasan perbuatannya, pelaku-pelaku itu begitu lihai memengaruhi proses penegakan hukum atas dirinya. Termasuk setelah menjalani hukuman, mereka masih bisa memengaruhi penegak hukum sehingga nyaman di penjara, termasuk menjalankan bisnis atau jalan-jalan ke luar penjara.

Penyimpangan hukum yang luar biasa yang mengabaikan hukum (diregardling the law) dan tidak menghormati hukum (disrespecting the law) sudah demikian kronis. Perilaku tersebut menyebabkan timbulnya ketidakpercayaan terhadap hukum dan keadilan, yang akhirnya bisa menumbangkan keadilan (Satjipto Rahardjo; Penegakan Hukum: Suatu Tinjauan Sosiologis).

Kecerdasan Spiritual

Kejahatan yang luar biasa, dengan pelaku yang punya power, bahkan sangat licin tidak bisa dilawan dengan cara konvensional. Kita butuh cara yang luar biasa pula, dan untuk itu butuh kecerdasan yang tidak saja sebatas kecerdasan intelektual tapi juga kecerdasan spiritual. Hal itu sejalan dengan pemikiran Satjipto yang menyatakan, penegakan hukum dilakukan dengan penuh determinasi, empati, dedikasi komitmen terhadap penderitaan bangsa, dan disertai keberanian mencari jalan lain dari yang biasa dilakukan.

Komitmen, empati, dan dedikasi dibutuhkan oleh lembaga penegakan hukum dan manusianya, karena UU itu hanya sebuah tulisan yang tidak akan berfungsi nyata kalau tidak diwujudkan oleh manusia yang diberi kewenangan untuk itu. Jika manusia-manusia tersebut punya komitmen, empati, dan dedikasi, juga kewenangan dan kecerdasan intelektual sekaligus spiritual, maka nilai-nilai agama dan sanksi-sanksi spiritual yang diajarkan oleh Tuhan YME, dapat mengimbangi dirinya dalam menjalankan tugasnya yang mulia.

Selama menjalankan tugas menegakkan hukum maka kepentingan akan selalu menjadi godaan besar untuk bisa bersikap tegas atau sebaliknya. Hati nurani adalah salah satu bagian dari kecerdasan spiritual yang penting dan utama untuk mengimbangi timbulnya godaan kepentingan tersebut. Semoga dapat berjalan secara seimbang antara kepentingan dan hati nurani para penegak hukum di negara ini.

Rendahnya kewaspadaan polisi

KEKERASAN terhadap polisi dan lembaga Polri, yang sejak beberapa tahun terakhir terjadi di berbagai wilayah negeri ini, tidak terlepas dari kewajiban negara memberikan rasa aman kepada rakyat. Karena terlalu kompleks tugasnya, negara memberi mandat kepada aparat kepolisian untuk melakukannya. Di sinilah perlunya aparat kepolisian membangun hubungan kemitraan dan kerja sama harmonis dengan berbagai pihak, yang secara langsung atau tak langsung memiliki andil dalam manajemen kegiatan keamanan.

Untuk itu, Polri harus berupaya sekuat mungkin guna mengetahui dan menetapkan perorangan atau kelompok tertentu yang memiliki kemampuan mencegah bentuk-bentuk kejahatan, khususnya yang diwujudkan dalam aneka ragam kekerasan terhadap kinerja Polri.

Hal itu memerlukan pemantapan akuntabilitas internal Polri, di samping akuntabilitas eksternalnya, terutama dalam urusan pemberian rasa aman pada masyarakat. Akuntabilitas internal dan eksternal Polri, merupakan salah satu akses utama pencegahan kekerasan terhadap polisi, baik secara personel, maupun kelembagaan. Hal utama yang perlu ditonjolkan dalam akuntabilitas internal adalah menjamin bahwa setiap kinerja individual (sikap dan perilaku anggota), dapat dipertanggungjawabkan sesuai kode etik, disiplin, dan aturan perundang-undangan.

Kekerasan terhadap polisi di Indonesia yang belakangan ini terjadi, dapat dikaji dari beberapa aspek. Pertama; lemahnya sistem perencanan dan pelaksanaan pemberian rasa aman itu sendiri, khususnya dari indikator kurangnya jumlah personel, di berbagai sektor kegiatan polisi. Selain juga keterbatasan sarana dan prasarana kepolisian, serta rendahnya tingkat kesadaran akan risiko pelaksanaan tugas, dari personel itu sendiri. Rendahnya kewaspadaan polisi, membuka akses perlawanan penjahat atau orang-orang yang tidak patuh hukum.

Menumbuhkan Kepercayaan

Kedua; lemahnya daya tanggap dan daya tangkal komando dalam memprediksi peluang perlawanan terhadap polisi, baik dari komunitas maupun pihak lain. Di sinilah perlunya optimalisasi pekerjaan intelijen Polri, terutama guna ìmembacaî kekuatan eksternal yang dipredikasi mempunyai potensi sekaligus minat untuk melakukan perlawanan terhadap kinerja Polri. Untuk itu, diperlukan sajian informasi komprehensif tentang kemungkinan resistensi pihak tertentu terhadap upaya Polri menegakkan rasa aman masyarakat.

Ketiga; keseriusan seluruh personel untuk mengendalikan diri dalam melaksanakan tugas pokok, tugas lain, fungsi, dan kewenangan Polri. Pengendalian diri ini diperlukan guna mencegah opini publik bahwa Polri adalah organ negara superbody, yang (dalam berbagai tindakan personelnya) seolah-olah tidak tersentuh hukum. Di samping, seakan-akan dapat melakukan apa saja, termasuk memasuki atau mengambil alih bidang tugas institusi negara yang lain.
Keempat; perlunya segenap anggota Polri menjunjung tinggi Skep Kapolri Nomor 8 Tahun 2009 tentang Prinsip Dasar Implementasi HAM bagi anggota. Pengakuan dan penghargaan terhadap integritas dan standar HAM oleh anggota Polri itu, diharapkan dapat sedini mungkin menumbuhkan kepercayaan masyarakat atas tekad Polri menegakkan HAM dalam melaksanakan tugas kepolisian.

Kelima; kemampuan Polri dalam mengaktualisasikan standar pelayanan minimal bagi semua pihak. Standar pelayanan ini dilandasi oleh janji Polri membangun pelayanan prima, sesuai pilar ketiga Grand Strategy Polri 2005-2025, terutama pada kurun 2020-2025.

Keenam; upaya pencegahan kekerasan terhadap polisi di Indonesia, adalah pemahaman atas indikator potensial keseluruhan pekerjaan kepolisian. Dalam hal ini, setiap anggota perlu mempertimbangkan indikator legalitas, nesesitas, dan proporsionalitasnya. Indikator legalitas, mendorong kesadaran setiap personel, bahwa tindakan mereka ada dasar hukumnya, selain sesuai dengan peraturan yang berlaku.

Indikator nesesitas tampak dari wujud kesadaran polisi bahwa tindakan pribadi dan lembaganya diperlukan oleh pihak lain, sesuai amanat hukum yang berlaku. Sedang indikator proporsionalitas akan memperkuat kesadaran mereka, bahwa tindakan polisi tidak berlebihan, masuk akal, tidak memberatkan pihak manapun, dan selalu dalam  koridor hukum.  

Jumat, 17 Juni 2011

Ideologi Negeriku Tergadaikan




      Bangsa kita gaduh oleh sejumlah kasus skandal yang merugikan dan merusak tatanan kenegaraan. Menggurita di lembaga pemerintahan (eksekutif, legislatif, yudikatif). 13 tahun Reformasi yang membuka ruang bagi siapa saja untuk turut berpartisipasi. Mereka yang tanpa jaminan integritas moral dan skill, akhirnya  mampu menguasai struktur dan sektor vital di Negara ini karena jurus sakti
sebagai pemilik sumberdaya (kekuasaan, massa dan uang).Tidak hadirnya ideologi dicerminkan oleh laku pragmatisme politisi, semakin memperparah syahwat kekuasaan yang dengan sekejap mampu dilegitimasi oleh sistem.

      Dukungan mayoritas yang telah direkayasa dengan materi (pengusaha) dibackup kekuasaan (birokrat). Partai politik menjadi sekadar tumpangan yang dengan mudah ditinggalkan jika hasrat telah tercapai. Lihatlah begitu banyak yang menjadi politisi kutu loncat. Malah ada yang memelihara, nahas!

      Diperparah lagi oleh kapasitas leadership yang lemah. Tidak hadirnya keberanian dan ketegasan, menjadi celah untuk berbuat di luar koridor hukum –agama, negara, budaya dan sosial-.

     Agenda mendesak bagi partai politik sebagai instrumen demokrasi, adalah menyiapkan kader-kader dengan basis ideologi yang mengakar. Mereka hanya bisa digembleng dalam sistem kaderisasi yang ketat.

      Bukan politisi dan pemimpin yang dihasilkan secara instan karena kemampuan finansial. Seperti para politisi kutu loncat, yang saban hari akrab dengan  berbagai skandal memalukan. Demokrasi dibajak!

      Di sinilah salah satu titik krusial masa depan demokrasi. Karena keterbukaan informasi, secara langsung mengedukasi masyarakat yang telah jenuh dengan lakon politisi karbitan yang hanya membawa egoisme kelompok.

      Dalam konteks marketing politik, diferensiasi partai politik menjadi fundamen magnetik. Partai yang berani melawan arus politik pragmatis tentu menjadi osae yang dinanti.

      Persepsi kegagalan rezim SBY menciptakan pemerintahan bersih yang dikonstruk oleh blow up media, tergambar dari ketidakpuasan masyarakat kian meruncing. Termasuk munculnya kerinduan terhadap Orde Baru.

      Kenyataan ini bisa menjadi bom waktu yang akan menimbulkan ledakan apatisme kolektif rakyat terhadap demokrat, (pelaku demokrasi). Apatisme menuju jurang demokrasi delegitimatif. Demokrasi elitis tanpa partisipasi rakyat.

      Apa yang diperjuangkan berdarah-darah oleh mahasiswa dan elemen civil society lainnya melalui reformasi 1998, bisa jadi tidak berarti lagi. Karena kini Demokrasi dikangkangi oleh mereka yang tidak siap. Krisis moralitas dan kapasitas leadership.

      Disinilah pentingnya moral dan ideologi sebagai pembeda (diferensiasi). Sel organik dan antitesis terhadap kontruksi politik liberal yang redusir.

      Sebagai generasi muda yang akan mengambil estafet kepemimpinan bangsa, pemuda hendaknya menyiapkan diri. Tantangan futuristik pemuda, menempa dua sisi integral. Integritas moral dan leadership yang semakain langkah. Wallahu'alam!