Pages

Selasa, 21 Desember 2010

OBAT PENAWAR ITU TERNYATA SEPAK BOLA


Obat penawar itu namanya Sepak bola
Negeri ratu Elizabets pencetusnya
Piala Dunia panngung terbesarnya
Liga Itali kompetisi terbaiknya
Indonesia diasaat krisis idologie,
Disaat krisis kepercayaan
Disaat krisiS kepemimpinan, Disaat carut marutnya tatanan social
Anak bangsa Negeri ini dengan gagak perkara utk membangkitkan rasa nasionalisme
Sepak bola adalah obat pemersatu bangsa dari Rt/Rw seluruh nusantara
Semua berteriak lantang  I n d o n e s i a …….. !!

Tidak cuma kaki yang bergerak

Pikiran dan jiwapun ikut bermain
Menciptakan sensasi dan sportivitas
Mewujudkan keindahan dan kesatuan rasa

Sepakbola itulah namanya

Tidak hanya milik para bangsawan
Orang jelata pun bisa merasakan
Sepak bola adalah universal
Sepak bola itulah namanya
Tidak hanya di atas stadion megah
Diatas lahan rakyat pun jadi
Sepak bola adalah kebahagiaan bersama

Sabtu, 18 Desember 2010

Hanya satu yang dibutuhkan


Bangsa Negeri ini membutuhkan Pimpinan yg mampu memimpin untuk Melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia, memajukan kesejahteraan umum, mencerdasakan kehidupan bangsa  Dan yang mampu untuk  melanjutkan tujuan kemerdekaan,  yang berkedaulatan  rakyat dengan berdasar kepada : Ketuhanan Yang Maha Esa, kemanusiaan yang adil dan beradab, persatuan Indonesia, dan kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan/perwakilan, serta dengan mewujudkan suatu keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.
 Tanah air yang kaya raya sumberdaya alam ini membutuhkan Pimpinan yang mampu menggerakan potensi sumberdaya manusia dalam mengelola kekayaan budaya dan sumber alam ini untuk menggerakan alam fikir bangsa Indonesia. Kita membutuhkan Pimpinan yang mampu menjalankan dan mengartikan KeMerdekaan dan kedaulatan Negara ini. Kita semua berharap semoga Bangsa ini akan menemukan seorang Pimpinan sejati bagi Bangsa Indonesia!!!
Salam Merdekaaaa……
!!!

Jumat, 17 Desember 2010

Demokrasi


Dalam sistematik demokrasi titah kekuasaan tertinggi adalah rakyat. Keberadaan rakyat sebagai objek dan subjek dalam sistem tersebut sangatlah determinan, bagaimanakah keinginan rakyat yang sebenarnya. Hal tersebut haruslah ditelisik. Karena titik tengkar demokarasi yaitu pencarian satu titik yaitu apa yang dinamakan kehendak (suara) rakyat.
Apalagi ada ungkapan yang sangat terkenal mengatakan, Vox Populi Vox De,I, suara rakyat, suara Tuhan. Betapa agungnya titah rakyat dalam denyut berbangsa dan bernegara.
Indonesia yang mengunakan nahkoda kenegaraan berasaskan demokrasi pancasila seharusnya mengimplementasikan kata pepatah tersebut. Dalam sistem demokarasi kita menempatkan posisi Tuhan di atas ‘menara gading’, di atas segalanya, Tuhan adalah pemilik sekaligus pemilik kosmik, sehingga sebagai hamba harus taat pada titah-Nya.
Melanggar suara rakyat bararti mempunyai efek domino, melanggar suara Tuhan. Ketentuan itulah yang harus dipijak jika bangsa ini masih berjejak pada sistem demokarasi pancasila. Membaca situasi yang menimpa Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), sepertinya masih sekedar angan-angan untuk mewujutkan hal tersebut.
Polemik yang terjadi mengenai status penenetapan Sri Sultan Hamugkubono X yang menjadi pemilik tahta sah sebagai gubernur, terus direcoki pemerintah pusat, kendati suara rakyat masih menempatkan Sultan sebagai gubernur tanpa adanya pemilihan. Dimanakah demokarasi itu yang sebenarnya?
Bak mendatangkan bencana baru, pernyataan SBY meluncur curam yang semakin membuat warga DIY berdentumman. “Nilai-nilai demokrasi tidak boleh diabaikan. Oleh karena itu, tidak boleh ada sistem monarki yang bertabrakan, baik dengan konstitusi maupun dengan nilai-nilai demokrasi.”Begitulah kata Presiden kepada media.
Pernyataan SBY tersebut seperti lonceng yang membuat masyarakat Yogyakarta semakin berkecamuk. “Erupsi” politik tersebut semakin membuat masyarakat Yogya yang semakin terlunta-lunta, belum usai dengan uruasan Merapi, mereka harus berhadapan dengan “erupsi” yang digencarkan dari pusat.
Menelik demokarasi bangsa kita yang belum diterapkan secara prinsipil untuk mengubah mindset tersebut, hendaknya kita menoleh ke belakang (sejarah). Untuk mencanagkan lompatan ke depan seperti yang diajarkan Ir Seokarno yang terkenal dengan (Jasmerah) Jangan Sekali-kali Meninggalkan Sejarah. Meminjam bahasa dari Budiarto Shambazy Jasmerah justru jangan disalah artikan “sejarah saya memang” parah. Oleh sebab itulah Ir Soekarno mau bergandeng tangan dengan Sri Sultan Hamengkubuwono IX untuk menjadikan wilayah Kesultanan Ngayogyakarta Hadiningrat bersatu padu dengan NKRI dengan menghormati keistimewaan Yogyakarta. Karena kontribusi untuk menegakan NKRI Yogya sangatlah besar, bila dilihat dengan optik historis.
Mengaitkan mutakhir saat ini sudahkah dapat dikatatakan merealisasikan demokrasi pancasila, ketika suara rakyat tidak diperdengarkan lagi? Atau lebih tepatnya bisa dikatakan sebagai “demokrasi gincu”, demokrasi yang hanya mempertotonkan secara simbolis ritus-ritus yang berada di dalamnya, tetapi tidak merepresentasikan suara rakyat. Hal yang lebih ditonjolkan hanyalah atribut-atribut tanpa menjamah substansinya yang seharusnya setiap kebijakan bermuara pada rakyat. Karena hakekat demokrasi sebenarnya hanya dan untuk rakyat. Di manakah demokrasi pancasila itu?

Apa ? Demokrasi ..... !!!


Dalam kehidupan demokrasi yang otentik, suara rakyat ditempatkan di posisi tertinggi. Namun, saat ini ideologi kerakyatan itu berubah menjadi adagium baru, yakni politik uang, suara rakyat adalah suara uang.Setiap proses politik nyaris selalu ditransaksikan dalam bentuk uang, sehingga demokrasi mengalami distorsi yang luar biasa, di mana substansi demokrasi 'dari, oleh, dan untuk rakyat' tidak pernah terwujud dalam praktik politik di Indonesia

Kamis, 16 Desember 2010

H a t i


Hidup jadi terasa aneh dengan hati yang tak tertata. Ia harus kembali ke tempat dimana seharusnya ia berdiam. Mengembalikan kejernihan yang dimilikinya. Hati adalah sesuatu yang unik yang dianugerahkan Tuhan kepada manusia. Darinya terlahir berbagai rasa, yang memberi nuansa dalam hidup. Berbagai perasaan telah dimunculkannya. Suka cita yang menebarkan kebahagiaan bagi sipemiliknya. dan tak jarang ia juga mampu mengacak bahkan mengguncang seluruh jiwa yang menyebabkan luka. Inilah saat yang tepat untuk menyapanya, Mengembalikan ketenangannya hingga meskipun ia beriak tidak akan menimbulkan gelombang yang menghancurkan pertahanan diri.
 Lebih dari 138 orang tokoh yang telah ditetapkan Pemerintah RI sebagai pahlawan nasional, akan menangis di makamnya ketika peringatan Hari Pahlawan dilangsungkan di negeri tercinta ini. Betapa para pejuang itu tidak menitikkan air mata karena peringatan Hari Pahlawan

tahun ini dalam suasana negara yang sedang menghadapi berbagai peristiwa dan tragedi yang sangat menyedihkan, seperti penganiayan dan pembunihan tki, bencana alam yang silih berganti, di mulai dari Papua Barat, letusan Gunung Sinabung dan menyusul Merapi serta gempa Mentawai, Sumbar yang merenggut ratusan jiwa. Juga kasus suap di MK,  korupsi yang terus merajalela serta Gubernur dan Kepala Daerah yang masuk bui, menyusul pro kontra pembangunan gedung baru para dewan, serta studi banding etika anggota DPR ke Yunani Plus jalan-jalan pelancong study banding tari perut, telah menyebabkan arwah para pejuang yang sudah memberikan darma baktinya berupa nyawa dan harta benda bersedih hati. Apalagi tentang kerusakan moral bangsa ini dan angka pengangguran di republik ini yang jumlahya terus membengkak hingga 4,1 juta orang. Pembusukan dalam berbagai hal terus terjadi dimana-mana, baik di pusat maupun di daerah. Aksi teroris juga belum tuntas serta tawuran antar warga masih tetap ada. Hukum yang seperti karet dan meningkatnya berbagai kejahatan dan pelecehan, baik terhadap anak maupun perempuan telah menyebabkan air mata para pejuang dan para pahlawan semakin berderai di makamnya.
by : Somo Wardoyo

Selasa, 14 Desember 2010

Untuk sahabatku



Kesedihan terkadang dapat mengunci akal kita dan tidak dapat melahirkan pendapat yang sehat.
Dan kesalahan pada satu waktu menjadi kesedihan selama hidup.
Semoga kamu mendapatkan kebahagiaan yang cukup untuk membuatmu baik hati,
Semoga mendapatkan cobaan yang cukup untuk membuatmu kuat.
Semoga mendapatkan Kesedihan yang cukup untuk membuatmu manusiawi.
Semoga mendapatkan Pengharapan yang cukup untuk membuatmu bahagia
trm ksh, Salam & doaku

By : Somo Wardoyo