Pages

Selasa, 15 Februari 2011

Tolonglah Aku !



Sudah cukup…
Jangan kau ajak aku untuk menyalahkan orang lain,
Jangan kau ajak aku untuk membenci orang lain,
Jangan kau ajak aku untuk merendahkan orang lain,
Jangan kau ajak aku untuk menyesatkan keyakinan orang lain,

Sudah cukup…
Jangan lagi kau jejali nuraniku dengan racun ke aku an
Jangan lagi kau jejali nuraniku dengan racun kebencian,
Jangan lagi kau jejali nuraniku dengan racun keangkuhan, dan
Jangan lagi kau jejali nuraniku dengan racun kesombongan,

Karena nuraniku sedang sekarat,
Nuraniku hampir mati,
Nuraniku tinggal satu dua nafas lagi
Tegakah engkau wahai saudaraku…

Tolong.. tolonglah aku….
Jangan kau racuni nuraniku lagi…
Kasihanilah nuraniku
Kasihanilah aku
Karena aku orang hina,
Karena aku bukan orang mulia,
Karena aku bukan orang suci, dan
Aku orang yang banyak berlumuran dosa

Tolonglah aku….
Hatiku sekarang keras membatu, keegoisanku menutup nuraniku,
Sehingga….
Hanya ke aku an yang tampak pada diriku
Hanya ke angkuhan sehingga merasa benar sendiri yang tampak pada diriku.
Dan hanya ke egoisan yang meracuni nuraniku
Tolong..tolonglah dari cengrkraman nafsuku yang buas itu wahai saudaraku…

My dreams


Mungkin aku tidak sebaik mereka
Aku juga tidak semulia mereka
Bahkan aku juga tidak akan seberuntung mereka
Beryanyi dengan ceria
Becanda dengan riang gembira
Berakhir sudah hari ini
Dengan hilangnya sang mentari
Tutuplah cerita untuk sejenak
Menunggu kedatangan hari esok yg penuh misteri

Tuhan,....
Adakah setitik ampunan untukku?
Raga yang mulai rapuh termakan usia
Jiwa yang mulai menangis terbayang dosa
Dulu aku bisa berbuat
Sekarang hanya bisa melihat
Dulu aku bisa berbicara
Sekarang hanya bisa berisyarat
Nafas mulai tersengal-sengal
Menahan rasa sakit yang tiada lagi terasa
Ketika waktunya tiba
Aku ingin melihat dia bahagia bersamanya
Sehingga aku bisa tersenyum kembali kepadanNYA

Dimanakah diriku !!

Suatu judul coretanku yang tak semestinya aku tulis untuk pribadiku, Namun ini terpaksa kubangun dan kurenungan dalam perjalanan hidupku. Guratan luka hati mungkin tidak mudah untuk dapat disembuhkan butuh waktu berbulan-bulan bahkan sampai bertahun-tahun untuk dapat merasakan semuanya pulih kembali itupun pada kenyataanya tidak seindah yang diharapkan, kenangan pahit pasti akan selalu menyertai setiap langkah manusia karena pada hakikatnnya hidup adalah pilihan, kadang terasa pahit banget kenangan yang dirasakan kadang juga terasa indah, dan fitrah manusia pasti tersenyum ketika indah dan termenung bahkan sampai menangis ketika semuanya pahit
Sedalam lautan dan seluas angkasa raya yang tidak dapat dihitung berapa luasnya begitu juga kedalaman hati, meskpiun hanya segumpal daging yang notabene tidak tampak dari luar tetapi begitu dasyat bila dia diusik, berapa ribu nyawa melayang hanya karena luka hati, berapa ribu rumah hancur hanya karena hati, dan berapa ribu pasang insane bubar karena hati, tetapi dengan itu semuanya kenapa masih banyak orang sok tahu dan pura-pura mengetahui isi hati orang lain apakah ini tidak melangkahi sang penguasa hati yang lebih dan lebih tahu isi hati seluruh manusia, kenapa orang berusaha menjadi juri yang menilai orang lain padahal dirinnya sendiri belum tentu dapat menilai hatinya sendiri, kenapa manusia begitu menggebu-gebu untuk mengecap orang lain sepengetahuan kasat matanya, kenapa manusia lebih bangga bila membicarakan kesalahan orang lain dari pada membahas kesalahan dirinnya sendiri, ya..mungkin semua dengan dalih introspeksi, memperbaiki orang lain, menasehati orang lain, merubah orang lain agar lebih baik… dan banyak lagi alas an kenapa semua dilakukan tapi catatan yang harus dilihat semuanya butuh cara dan proses…??karena manusia akan marah bila dicaci maki dan akan tersenyum bila dipuji
Begitu juga dengan cara memperbaiki orang lain, tidak hanya sekedar membicarakan kesalahan kepada orang lain dengan sepengetahuannya sendiri yang akan terjadi adalah sakit hati, yah meskipun tidak semuanya hanya orang-orang yang lapang dada yang akan menerima semuanya ketika hujatan datang, ketika fitnah menyambar dia tetap tersenyum saraya berkata” hanya Allah yang saya tuju tidak karena dia, ia atau mereka”
Salamku

Sabtu, 12 Februari 2011

Doa orang papa Untuk Bangsa

Bila yang kau tuntut kesadaran
kami sudah melakukan Lebih dari itu
kami berbakti dan mengabdi

Bila yang kau tuntut kerelaan
kami sudah melakukan Lebih dari itu
kami haus dan lapar
tanpa mengusik tambang-tambang yang kau gali
Kami rela tidur di lorong-lorong gelap
karena kami tak hendak mengusikmu dalam  lelap
Meski kami tahu
bahagiamu di atas getir kami
dari hasil rempah dan minyak
yang Tuhan titipkan untuk kami

Bila yang kau tuntut penghormatan
kami sudah melakukan Lebih dari itu
kami cinta negeri ini sepenuh hati
Jiwa raga kami adalah bendera
kami biarkan gigil dan terpanggang demi kedaulatan

Bila yang kau tuntut kesediaan berkorban
kami sudah melakukan Lebih dari itu
kami kibarkan semangat dalam derita dan dahaga
Seperti para pendahulu kami ingin bela negara
di atas segala yang kami punya

Kami rela mati demi harga diri
di bumi yang tak patut lagi dijajah ini
Maka yang kami minta
jangan hardik anak-anak kami
di tempat mereka mengemis; atau memulung belas kasih
Jangan buru anak-anak kami
di tempat mereka berteduh; atau berdiam barang sahari
Jangan gusur anak-anak kami
di tempat mereka mengais rezki; atau mengadu nasib sendiri

Dan jangan lagi kau perdaya hak-hak kami
dengan subsidi; atau manis janji
Bukankah sudah seharusnya
kami dan anak-anak kami kau pelihara untuk sejahtera
seperti amanah yang terpatri dalam lima sila
lambang tegaknya Negara

Penguasa!

Merenungi makna Hidupku !!


Merenungi makna hidupku, merasakan peranku dalam perjalanan sang waktu. Kali ini aku merasa tak lagi berhati. Kali ini di kepalaku hanya ada obsesi. Obsesi dihargai  sebagai manusia.

Hari ini aku hanya ingin mengingat. Merindukan masa saat aku bercita sederhana. Menjadi orang baik. Orang yang memberi arti bagi orang lain. Tak pernah melukai, meski setitik. Tak pernah punya keinginan untuk menyakiti terhadap sesama, meski senoktah. 

Padahal aku tak pernah ingin berpura-pura dalam hidupku. Aku ingin menjadi aku. Dengan idealismeku dulu. Menyampaikan apa yang perlu kusampaikan. Tak perlu menyampaikan kepalsuan. Aku ingin menyampaikan kebenaran. Jika kepalsuan itu harus disampaikan, semata untuk membuat si palsu terkuak. Aku ingin menjadi orang baik. 

Padahal aku ingin, dengan peranku aku memberi secercah harap. Seberkas asa. Tuhan. Mereka yang dihempas duka, mereka yang terluka, mereka yang menahan jerit. Meski sekedar uluran tangan. Pelukan seorang saudara. Sekedar menenangkan. Meski hanya sementara. Menjadi orang baik. 
Padahal, dengan peranku, aku bisa tulus berbagi dengan mereka. Membiarkan mereka membagi luka, memberi sedikit kehangatan. Dengan ikhlasku, dengan kerelaanku. Sebagai saudara, sebagai teman, sebagai tempat berbagi. Menjadi orang baik. 

Padahal dengan peranku, aku tak usah berpura-pura. Aku bisa lebih memaknai senyumku untuk menghadiahkan sedikit bahagia dihati mereka. Dengan simpati yang tak lagi palsu. Sebenar-benarnya simpati. 

Padahal dengan peranku, dengan kelurusan niatku, aku ingin membuat cerita-ceritaku bermakna. Membuat kisah-kisah dari tanganku dapat merubah dunia. Membuat manusia lain lebih merasa dan berterimakasih atas takdir mereka yang lebih. Membuat mereka berlomba menjadi orang baik. 

Idealismekah itu…Sobat ?? Ach, Lupakan saja, Dan doakan agar tetap menghujam dihatiku untuk sekedar berharap :

Yang kami harap adalah terbentuknya Indonesia lebih baik dan bermartabat serta kebaikan dari Allah Pencipta Alam Semesta
Amien.

Jumat, 11 Februari 2011

Becik Ketitik Olo ketoro


Becik ketitik ala ketara
   Titenono wong cidro mongso langgeng0,
   Suro dir0 jayaningrat lebur déning pangastuti

Eksistensi dan esensi moralitas harus dijunjung tinggi baik di dalam budaya dan agama, universal mengajarkan sikap saling hormat menghormati terhadap kehidupan manusia, rahmatan lil alamin, memayu hayuning bawana, melaksanakan ketertiban dunia berdasarkan perdamaian dan keadilan

Selasa, 08 Februari 2011

Mpu Tantular aku ingin membaca Kitab Sutosumo


Kitab Sutasoma karangan Mpu Tantular yg menjadi pemersatu kerukunan hidup setiap warga negara Indonesia. Tidak salah rasanya jika kokoh kaki lambang negara berupa Burung Garuda mencengkeram kuat semboyan negara ini. Namun, kemana kini semangat Bhineka Tunggal Ika dalam hidup warga Indonesia ? Ataukah bersembunyi? Kerusuhan anarkhi penuh emosi, acungan golok dan senjata di sana-sini, rasa tidak aman melingkupi bahkan untuk menjejakkan satu langkah kaki. Apakah kini Bhineka Tunggal Ika hanya tinggal pajangan di setiap dinding rumah? Aku sangat menikmati dan mensyukuri hidup dalam perbedaan. Semboyan Bhineka Tunggal Ika bukan hanya tulisan dalam kertas, melainkan hidup berdampingan dengan damai dalam kehidupan sehari-hari saya.

Sahabat, hentikan pertikaian. Mari kita saling bergandengan tangan. Mari kita rasakan indah dan damainya hidup dalam perbedaan. Salam.